Welcome
Welcome to Cross-written
Tampilkan postingan dengan label by Jed. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label by Jed. Tampilkan semua postingan
Posted on 01.27

Imanuel: Ketika Allah Bersama Kita

Filed Under () By Jed Revolutia di 01.27

Kita sudah sering mendengar kalau manusia adalah makhluk sosial. Tidak ada manusia yang sanggup hidup seorang diri, termasuk juga Adam, manusia pertama. Meski dia memiliki sebuah taman surga di bumi lengkap dengan binatang-binatang lucu dan buah-buahan yang enak dimakan, dia masih merasakan sebuah kekosongan di dalam hati dia. Meskipun hadirat Tuhan menyertai hari-hari Adam, hidupnya merasa merana ketika dia tidak memiliki seseorang manusia lain yang dapat ia ajak berbagi. Itulah sebabnya mengapa Allah membawa Hawa kepada Adam, seorang yang adalah tulang dari tulang Adam dan daging dari daging Adam sendiri.

Bayangkan jika anda baru saja menang lotere sebesar 1 Milyar Rupiah, namun siapapun yang anda ceritakan tentang kemenangan anda ini malah memberikan wajah tidak bersahabat dan mencacimaki anda. Hal tersebut bisa membuat anda menjadi sangat putus asa dan hal yang seharusnya memberikan kebahagiaan malah berubah menjadi sebuah kesedihan. Bayangkan juga perasaan anda ketika dokter memvonis anda terkena kanker, namun teman-teman anda berkumpul di sekitar anda, memeluk dan memberikan semangat. Hal yang seharusnya membawa kesedihan pun berubah menjadi sebuah optimisme dan semangat hidup. Kita butuh orang lain untuk saling berbagi baik dalam hal suka maupun duka.

Kekosongan di hati kita tidak bisa dilampiaskan dengan uang dan harta yang banyak. Banyak yang ingin menjadi kaya, kuat, berpengaruh, dan menarik dengan motivasi yang paling mendalam ialah kerinduan akan persahabatan. Banyak yang menyangka dengan uang dan kuasa di tangan kita, kita bisa membeli keintiman. Ini terjadi sebelum kita menyadari kalau kita tidak dicintai oleh siapapun dan bahwa kita cuma diperalat oleh orang lain yang ingin mengambil keuntungan dari kita. Dalam hal ini pun kita tahu bahwa kesepian bisa melanda semua orang, besar kecil, tua muda, kaya miskin, menarik atau tidak menarik.

Dalam film Good Luck Chuck dilihat pola ini. Chuck yang menemukan dirinya sebagai Lucky Charm bagi gadis-gadis untuk menemukan kekasih sejatinya, pada awalnya bersemangat dengan ide bahwa ia bisa meniduri gadis manapun yang ia mau. Namun selang beberapa waktu, dia mulai merasa hampa dan sadar bahwa dia tidak dicintai oleh gadis-gadis yang mengejar dia, mereka hanya mau mengambil keuntungan darinya. Demikian juga selebritis yang seolah-olah disukai dan dicintai banyak orang, namun jauh di dalam hati mereka, mereka juga mengalami kesepian yang mendalam karena dia tidak mengenal dan dikenal oleh siapapun.

Ayat-ayat di kitab Pengkhotbah pasal 4 cukup menggambarkannya:
7 Aku melihat lagi kesia-siaan di bawah matahari:
8 ada seorang sendirian, ia tidak mempunyai anak laki-laki atau saudara laki-laki, dan tidak henti-hentinya ia berlelah-lelah, matanyapun tidak puas dengan kekayaan; —untuk siapa aku berlelah-lelah dan menolak kesenangan? —Inipun kesia-siaan dan hal yang menyusahkan.
9 Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.
10 Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!
Banyak yang menyangka bahwa rasa kesepian bisa diusir dengan memiliki seorang kekasih atau pasangan hidup. Kenyataan bahwa 2 orang selalu tidur bersama di satu ranjang setiap malam, bukanlah jaminan kalau rasa kesepian itu telah hilang. Seringkali luka-luka emosional yang dibuat pasangan malah akan menambah besar luka akibat kesepian kita itu.

Rasa kesepian hanya bisa diusir oleh keintiman, yaitu mengenal dan dikenal. Keintiman sejati bukan berbicara tentang hubungan seks, karena tidak dibutuhkan keintiman untuk dapat berhubungan seks, namun keintiman sejati bicara mengenai keterbukaan dan ketelanjangan, mengenal dan dikenal, dimana tidak ada lagi rahasia diantara setiap individu yang terlibat. Keintiman dimulai dengan kejujuran dan saling menerima apa adanya.

Natal bicara mengenai pesan Allah dalam Kristus Yesus, yakni Imanuel, yang berarti Allah berserta kita. Allah menawarkan akses keintiman kepada diriNya yang sudah terhalang selama berabad-abad oleh sistem imamat yang beku dan kaku. Yesus mengajarkan murid-muridNya untuk memanggil Allah dengan sebutan keintiman, 'Ya Abba, Ya Bapa' seraya mencerikan kisah anak bunggu yang menyia-nyiakan hidupnya namun diterima kembali ke pelukan Abba.

Penerimaan sejati datang dari Bapa sendiri. Ia adalah Allah yang tidak mengukur berkat berdasarkan jasa yang kita buat bagi nama Allah. Abba menerima kita apa adanya, dan bukan sebagaimana seharusnya, karen tidak ada dintara kita yang hidup sebagaimana seharusnya. Allah mengasihi kerena Allah adalah kasih. Ia adalah Allah yang mencari Adam dan Hawa ketika mereka bersembunyi dari Allah. Ia adalah Bapa yang berlari merangkul anak bungsu yang boros ketika melihatnya berjalan pulang dari kejauhan. Ia adalah Allah yang akan memulai segala sesuatu menjadi baru.

Kesepian anda bisa mulai disembuhkan ketika anda menyadari bahwa anda adalah kesayangan Abba. Tidak ada yang bisa anda lakukan untuk mendapatkan lebih banyak kasihNya dan tidak ada yang anda telah anda lakukan yang bisa merusak perjanjian kasihnya bagi kita. Allah adalah Imanuel, Allah yang akan bersama kita dan menemani kita di saat-saat kita sedang merasa sendirian.

Mari nyanyikan sebuah lagu berikut dari Don Moen yang berjudul 'I Will Sing':

Lord You seem so far away. A million miles or more it feels today.
And though I haven't lost my faith, I must confess right now that it's hard for me to pray.
But I don't know what to say and I don't know where to start.
But as you give the grace with all that's in my heart.

I will sing.
I will praise even in my darkest time through the sorrow and the pain.
I will sing. I will praise.
Lift my hands to honor You because Your word is true. I will sing.

Lord is hard for me to see all the thought and plan You have for me.
But I will put my trust in You. Lord, we'll meet Your guide to set me free.
But I don't know what to say and I don't know where to start.
But as you give the grace with all that's in my heart.

I will sing.
I will praise even in my darkest time through the sorrow and the pain.
I will sing. I will praise.
Lift my hands to honor You because Your word is true. I will sing.

Posted on 10.20

Genuine

Filed Under () By Jed Revolutia di 10.20


Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Yohanes 1:47

Saya masih ingat doa saya beberapa tahun lalu, "Tuhan, aku mau menjadi otentik"

Sejak saat itu saya selalu mencaritahu apa dan bagaimana kekristenan yang otentik karena suka atau tidak suka, kebanyakan orang menghidupi kekristenan yang superfisial dan tidak membumi.

Ada orang yang mengajarkan satu hal, namun orang yang sama juga melanggar apa yang dia khotbahkan. Ada yang terkesan sangat murni, tapi ujung-ujungnya terlihat juga kebusukannnya. Ada yang terlihat sangat suci dan selalu layak jadi panutan dan membuat semua orang lain merasa tertuduh, namun itu semua cuma olesan cat saja untuk menutupi kayu yang sudah busuk sejak lama.

Dimanakah bisa kutemukan otentitas itu?

Apakah menjadi Kristen sama dengan menjadi seorang malaikat tanpa dosa?
Apakah menjadi Kristen sama dengan menjadi seorang yang selalu di puncak gunung tanpa pernah turun gunung?
Apakah menjadi Kristen sama dengan menjadi seorang yang tinggal di taman Eden?

Dimanakah bisa kutemukan kekristenan yang jujur dan bertanggungjawab? Yang tidak takut untuk dinilai dan dihakimi oleh manusia karena tahu bahwa dirinya adalah kesayangan dan kebanggaan Abba, tidak peduli apa kata dunia ini dan apa kata semua 'anak sulung' di dunia ini.

St. Paul berkata: "Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi" (1 Kor 4:3)

Ketika Tuhan memilih seseorang untuk membawa namanya, Dia membuat sebuah pemilihan yang aneh. Tuhan tidak memilih Ayub yang hidup saleh dan tanpa cela. Tuhan tidak memilih Henokh yang hidup bergaul dengan Allah hinga dia diangkat ke surga. Tuhan malah memilih seseorang bernama Yakub, yang namanya sendiri berarti 'penipu' dan 'pemegang tumit'.

Hidup Yakub sendiri menunjukkan apa itu artinya menjadi seorang penipu sejati karena dia menipu kakaknya sendiri, Esau, dan mencuri hak kesulungan dan berkat patriakhal yang seharusnya menjadi miliknya. Yakub kemudian menipu ayahnya sendiri dengan membuat ayahnya terpaksa melepaskan berkat kepadanya. Yakub kemudian menipu dan ditipu oleh pamannya sendiri, Laban.

Hidup Yakub penuh dengan daftar dosa dan kecacatan namun Allah Maha Tinggi memutuskan untuk mengangkat Yakub menjadi 'The Prince of God' dengan memberinya nama baru yakni 'Israel' (Kej 32:28)

Apa alasan pemilihan Allah yang aneh ini? Yakub tahu akan hal-hal yang berkualitas dan dia tidak segan-segan melalukan segala cara untuk mengejarnya. Dia adalah orang yang berjuang untuk hak kesulungan, berkat patriakhal, istri-istri yang bukan orang kanaan, dan harta kekayaan. Bukan hanya itu saja, ketika Yakub bergulat dengan theofani (perwujudan Yesus di dalam Perjanjian Lama), dia tidak mau melepaskan Allah pergi sebelum melepaskan berkat kepadanya.

Yakub mungkin penuh dengan daftar kepalsuan, namun dia seseorang yang mengejar kerajaan Allah. Lukas 16:16 menyebutkan banyak orang akan merebut kerajaan Allah dengan cara paksa. Tuhan menghargai mereka yang aktif mengejar dan berusaha memperoleh kerajaan itu.

Ketika Yesus bertemu kita, apakah yang Ia katakan pada kita? Akankah Dia memanggil kita seperti Dia memanggil Natanael, seorang Israel sejati dimana tidak ada kepalsuan di dalamnya?

Posted on 21.56

Mission is Yes-Us

Filed Under () By Jed Revolutia di 21.56

For God loved the world so much that he gave his one and only Son, so that everyone who believes in him will not perish but have eternal life. (John 3: 16)

Misi secara harafiah berarti pengutusan untuk melakukan suatu tugas. Belakangan ini kata misi sepertinya kembali menjadi kata favorit di dunia kekistenan. Gereja-gereja sedang menargetkan pertumbuhan jumlah pengikut Kristus di dunia ini. Beberapa punya maksud tulus yakni meneruskan amanat Yesus, sedang yang lain melakukannya demi memperbanyak jumlah anggota jemaat mereka. Terlepas dari maksud dan motivasi, bisa dipastikan sebagian besar orang Kristen memang memikili beban untuk membagi berita Gospel (- dari kata ‘Good Spell’ kabar baik) atau God’s Pill ( obat bernama Tuhan) kepada dunia. Tulisan ini bertujuan untuk menantang asumsi yang ada selama ini mengenai apa dan bagaimana misi sebaiknya dilaksanakan. Penulis tidak memaksakan pembaca untuk setuju sepenuhnya dengan isi tulisan, namun lebih mengundang untuk memikirkan ulang konsep-konsep yang pembaca punya selama ini.

Contoh terbaik untuk mempelajari misi adalah dari Allah sendiri. Bapa di surga telah mengutus Anak-Nya Yesus ke dalam dunia untuk melaksanakan suatu tugas, yakni penebusan manusia. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa Yesus adalah Misionaris terbesar sepanjang sejarah. Melalui cara Bapa mengutus Yesus ke dalam dunia seperti yang diuraikan dalam Yohanes 1 : 9-14 kita bisa belajar mengenai prinsip-prinsip utama dari misi dan penginjilan. Sebenarnya misi sendiri tidak jauh-jauh dari Yes-(it’s)-Us.

Mission is Us – Coming into the World
The one who is the true light, who gives light to everyone, was coming into the world. (ayat 9)

Misi berarti diutus pergi ke suatu tempat yang lain. Yesus meninggalkan surga untuk datang ke dalam dunia. Gereja juga diutus Yesus untuk pergi ke dalam dunia. Itu sebabnya Yesus tidak langsung membawa GerejaNya ketika kembali kepada Bapa, melainkan melepaskan Gereja untuk menjalankan misi di dunia. Celakanya, hal ini sudah hampir dilupakan oleh Gereja masa kini.

Kebanyakan gereja mengartikan misi sebagai mengundang dunia ke dalam sebuah tempat bernama gereja. Oleh karena itu, mayoritas gereja menganggap mereka sudah menjalankan misi jika telah menyelenggarakan berbagai event yang bertujuan mengundang orang dunia mau masuk ke dalam gereja, entah melalui acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), konser musik, acara makan-makan, atau Seminar Pengembangan Pribadi. Bangunan gereja pun dipermewah dengan menambahkan AC dimana-mana dan musik gereja pun diperbaharui dengan mengikuti selera pasar yang sedang berkembang. Segala upaya tersebut memang bagus, tapi sudah melupakan dasar esensi misi sesungguhnya, yakni ‘kita pergi ke dalam dunia’ dan bukan ‘dunia datang ke kita’.

Hasilnya kita punya the so-called ‘hyped’ christianity. Semua yang dilakukan dalam ‘misi’ gereja bertujuan menunjukkan kepada dunia betapa indahnya menjadi orang Kristen dan betapa orang-orang Kristen memang sangat cool. Orang Kristen pun terlatih untuk memasang topeng bernama ‘kerendahan hati palsu’ dan semua di dalam bangunan gereja memang nampak seperti tidak punya masalah. Orang dunia yang datang ke bangunan gereja pun dilatih untuk mengganti baju ‘setan’ mereka dan mengenakan kostum ‘malaikat’ di dalam gereja dan parahnya mereka kembali berganti kostum ketika keluar dari bangunan gereja.

Allah mengartikan misi sebagai pergi ke dunia, namun kita telah lancang menyebut segala upaya mengundang dunia ke dalam gereja sebagai misi. Sekali lagi saya katakan bahwa misi adalah gereja datang ke dunia, bukan dunia datang ke gereja. Jika anda sependapat dengan saya silahkan lanjut membaca thesis-thesis selanjutnya, namun jika tidak, sebaiknya anda tidak usah lanjut membaca karena tidak akan ada gunanya semenjak anda suka berada di zona nyaman.

Mission is Us – Shining in the Darkness
The one who is the true light, who gives light to everyone, was coming into the world. (ayat 9)

Bapa mengutus Yesus untuk menjadi terang bagi dunia dan sekarang dunia telah terang bederang karena efek kedatangan Yesus. Dunia 2000 tahun sesudah kedatangan Yesus sudah berbeda jauh dengan dunia pada zaman Yesus. Kedatangan Yesus telah membuat manusia memikirkan ulang konsep-konsep yang dianggap baku sebelumnya seperti perbudakan, rasisme, peperangan, kekerasan, dan yang terutama ketidaksetaraan gender. Kedatangan Yesus telah membuat dunia mengerti dan memahami betapa beharganya setiap individu di mata Allah terlepas dari jenis kelamin, ras, dan strata sosial. Kadatangan Yesus ke dalam dunia telah memunculkan musim semi setelah musim dingin yang cukup lama. Kedatangan Yesus juga seperti seperti fajar pagi yang menghapus kegelapan dan membawa dunia semakin menuju puncak terang tengah hari.

Apakah misi gereja hari-hari ini sedang menunjukan terang yang bersinar di kegelapan? Yang ada malah terang yang eksklusif dan menolak hadir di tengah-tengah kegelapan. Gereja merasa risih dengan kegelapan di sekitarnya sehingga akhirnya memilih untuk menerangi dirinya sendiri. Tidak heran jika akhirnya setiap cacat cela gereja menjadi olok-olok dunia. Gereja sudah lupa bagaimana caranya bersinar di tengah kegelapan.

Jemaat gereja hari ini dilatih menjadi katak dalam tempurung dengan membuat subkultur sendiri. Mereka mengenal yang namanya musik Kristen, film Kristen, buku Kristen, sekolah Kristen, televisi Kristen, sulap Kristen, partai politik Kristen, arisan Kristen, hotel Kristen, mobil Kristen, bakmi Kristen hingga make-up Kristen. Mereka adalah kelompok masyarakat yang alergi terhadap segala sesuatu yang tidak berlabel Kristen. Mereka mencap Harry Potter sebagai pekerjaan setan, Teletubbies sebagai gay, dan Ahmadinejad sebagai antikristus. Mereka adalah kelompok masyarakat yang sangat amat eksklusif.

Sama dengan cara pandang orang miskin di daerah kumuh terhadap orang-orang yang tinggal di perumahan elit, demikianlah pandangan dunia terhadap Gereja. Mereka melihat gereja sebagai alien-alien yang hidup untuk diri mereka sendiri. Gereja mungkin saja mengadakan acara sosial seperti membantu orang-orang miskin dan susah, namun seringkali itu dilakukan hanya kepada kalangan sesama Kristen, atau kalangan di luar Kristen dengan tujuan meng-kristen-kan mereka. Dengan kata lain Gereja tidak berhasil menjalankan misi menjadi terang di dunia karena Gereja memang tidak peduli pada kegelapan yang ada di dunia.

Mission is Us – Not Self-seeking
He came into the very world he created, but the world didn't recognize him. (ayat 10)

Sangat miris memang melihat bagaimana Bapa mengutus Yesus ke dalam dunia – dengan kesederhanaan. Selama di bumi Yesus dikenal sebagai pribadi yang bersahaja, jauh dari kemewahan dan hedonisme dunia, dan Dia memilih menjadi yang paling rendah dari yang paling rendah. Yesus tidak mencari popularitas. Meski saudara-saudara Yesus mengusulkan sebuah usulan menajerial yang sangat baik, “Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. Sebab tidak seorangpun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia." (Yoh 7:3-4), Yesus malah menganggap dingin ide marketing brilian saudara-saudaranya tersebut.

Yesus menjalankan misinya dengan tidak berusaha mencari perhatian. Misi akan dianggap berhasil apabila tugas berhasil dilaksanakan dengan baik, bukan karena banyak orang yang memperhatikan dan ikut serta. Sungguh kontras dengan Gereja masa kini yang sangat ingin mendapat perhatian dunia dengan menonjolkan hal-hal yang dianggap Yesus sendiri sebagai ‘kebodohan’ seperti dalam hal jumlah pengikut, popularitas, dan kekayaan material.

Yesus tidak perduli dengan berapa murid yang Dia punya, malah mungkin Dia bisa dianggap gagal karena meskipun hanya punya 12 pengikut, Dia masih harus kehilangan 1 orang yang bukan hanya meninggalkanNya, namun juga mengkhianatiNya. Yesus tidak mempedulikan statistik, tapi transformasi hidup. Jika gereja hari ini menganggap diri sukses dengan banyaknya jumlah jemaat, hal ini mungkin mungkin akan diketawakan Yesus jika Dia diwawancarai surat kabar hari ini.

Yesus tidak peduli dengan popularitas, malah dia selalu berusaha kabur dan menghindar dari fans-fans fanatiknya. Dia gak berminat jadi superstar dan Dia tidak peduli apa kata orang tentang Dia. Gereja hari ini mengukur kesuksesan dengan seberapa laris buku best-seller mereka, seberapa nge-hit musik mereka, dan seberapa besar tarif pengkhotbah kesayangan mereka. Para hamba Tuhan pun mulai menganggap diri mereka sebagai selebritis rohani dan senang membanggakan mahalnya pakaian mereka, kendaraan mereka, dan rumah mereka. Celakanya itu semua dilakukan atas nama misi bagi dunia.

Mission is Us – Not Imposing Others
He came to his own people, and even they rejected him. (ayat 11)

Dalam menjalankan misiNya Yesus harus berulang kali menghadapi yang namanya penolakan. Meskipun Yesus bisa saja menggunakan tangan besi untuk melaksanakan kehendakNya, namun Yesus adalah pribadi lemah lembut yang tidak pernah memaksa orang lain untuk mengikutiNya. Dia mengajukan sebuah tawaran dan membiarkan orang memilih untuk menerima atau menolak. Namun tetap saja Yesus memberikan nyawaNya bagi semua orang, baik yang menerima maupun yang menolakNya. Dia berdoa di kayu salib, “Bapa, ampunilah mereka”. Ini adalah ucapan yang spektakuler karena memohon pengampunan bagi mereka yang hendak mengambil nyawa kita memang terlihat sangat bodoh. Namun Yesus siap menjadi terlihat bodoh demi cintaNya kepada kita dan ketaatanNya kepada misi yang diberikan Bapa.

Sejarah dunia menyebutkan salah satu alasan mengapa Kristen menjadi agama dengan pengikut terbanyak di dunia karena penyebarannya melalui media kekerasan. Pada zaman dahulu, Paus bekerja sama dengan raja-raja Eropa untuk menaklukkan dunia dan memaksa seluruh dunia menjadi Kristen. Sebuah anekdot Afrika menceritakan bahwa sebelum bangsa Eropa datang ke Afrika, bangsa Afrika memiliki emas di tangan mereka. Setelah berjumpa dengan bangsa Eropa, emas pun berpindah ke tangan bangsa Eropa dan di tangan bangsa Afrika diberikan Injil sebagai ganti emas. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar bangsa yang notabene Kristen seperti Eropa, Afrika, dan Amerika Latin telah dibaptis dalam pedang dan senapan.

Di masa kini pun chauvinisme Kristen masih merajalela. Tanya saja kepada orang Kristen di mana saja tentang pendapat mereka mengenai umat Islam, Atheist, atau kepercayaan lainnya, pasti akan keluar sebuah pendapat yang kental dengan prasangka. Mereka menganggap merekalah manusia sejati dan memaksa semua orang untuk mengakui bahwa mereka unggul dan memakai baju yang sama. Misi diartikan sebagai memaksa dunia untuk berseragam sama dengan kita. Tidak heran kemudian lahir gerakan-gerakan politik berlabel Kristen dan berusaha mengubah dunia dengan cara-cara yang tidak mengikuti teladan Yesus. Yesus selalu mengutamakan perubahan hati dan tidak pernah ada hati yang berubah akibat paksaan.

Mission is Us – Giving Ourselves
But to all who believed him and accepted him, he gave the right to become children of God. (ayat 12)

Yesus datang dengan semua misi untuk membuat sebanyak mungkin orang menjadi anak-anak Allah. Meskipun dia adalah Putera tunggal Bapa, Dia rela untuk memberikan hak kesulunganNya kepada kita, agar kita boleh mengalami semua berkat yang Yesus miliki di dalam Bapa. Misi berbicara mengasihi dan mengasihi berbicara memberi. Yesus memberikan harta terbaik yang Ia miliki, yakni nyawaNya agar kita bisa mendapat bagian di dalam kemuliaanNya.

Apa yang Yesus contohkan ketika dia menjalankan misi di dunia? Dia menjadikan diriNya yang mulia sebagai hamba dan pelayan yang hina. Yesus bahkan sempat mengambil jubah seorang budak dan membasuh kaki murid-muridNya. Yesus mengajarkan bahwa kebesaran sejati timbul dari merendahkan diri dan melayani dunia ini. Pertanyaan yang timbul sekarang ialah apakah Gereja melayani dunia seperti seorang hamba melayani tuannya? Apakah Gereja malah menuntut dunia melayani dirinya dengan menuntut fasilitas dan kemudahan? Apakah gereja rela kehilangan semarak kebaktian mewah dan menyumbangkan semua uang untuk melayani dunia (mereka yang tertindas)? Apakah gereja rela kehilangan hak demi menjangkau hati manusia yang sudah bebal? Dalam menjalankan misinya, Yesus sudah memberikan segala-galanya bagi dunia. Pertanyaannya sekarang, apakah gereja sudah memberikan segala-galanya bagi dunia?

Mission is Us – Incarnating
So the Word became human and made his home among us. He was full of unfailing love and faithfulness. And we have seen his glory, the glory of the Father's one and only Son. (ayat 14)

Ketika Yesus datang ke dunia, Dia terlebih dahulu menginkarnasikan diriNya ke dalam rupa manusia. Dia memilih untuk lahir sebagai bayi tidak berdaya, mengalami proses pertumbuhan selayaknya manusia bertumbuh, dan mengalami keterbatasan-keterbatasan fisik sebagai manusia. Misi bagi Yesus ialah mengkomunikasikan pesan dari Bapa dan pesan itu baru akan tersampaikan dengan baik apabila pesan itu telah melalui proses inkarnasi terlebih dahulu. Yesus tidak datang ke dunia dalam rupa keilahianNya namun Ia menjadi sama dengan manusia.

Gereja misi adalah gereja yang berinkarnasi ke dalam dunia. Pesan Injil tidak sampai dengan jelas karena Gereja memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa yang digunakan dunia, akibatnya ialah miskonsepsi dan salah pengertian yang berbuntut pada kecurigaan yang berlarut-larut. Gereja telah terlalu sombong untuk mau membungkuk dan menjadi sama dengan dunia. Oleh karena itu gereja sebaiknya menghapus segala penggunaan bahasa Kristen dan mulai berbicara dalam bahasa yang dimengerti oleh dunia ini.

Apakah dunia ini akan mendengar orang ‘kudus’ yang terlihat seperti habis tersambar petir dan mengucapkan kata-kata yang ‘terlalu rohani’? Apakah dunia ini akan mendengar kesaksian dari para selebritis Kristen yang hidup dalam kemewahan semu? Saya rasa dunia ini sedang mencari mereka yang sama seperti dirinya, “been through hell, done that”, dan berbicara dalam bahasa yang mampu dimengerti.

Mission is Us – being Jesus
So the Word became human and made his home among us. He was full of unfailing love and faithfulness. And we have seen his glory, the glory of the Father's one and only Son. (ayat 14)

Yesus datang untuk menunjukkan kepada dunia wajah daripada Bapa dan Gereja di utus ke dunia untuk menunjukkan kepada dunia wajah daripada Yesus. Gereja yang misioner adalah gereja yang menjadi Yesus bagi dunia yang terhilang ini. Apa yang dilakukan Yesus bagi dunia, hal yang sama seharusnya dilakukan oleh Gereja. Yesus berdoa dan memberkati musuh-musuhNya, demikian halnya seharusnya Gereja berdoa dan memberkati Osama bin Laden, Ahmadinejad, dan Abu Bakar Baasyir.

Philip Yancey mengatakan jawaban bagi pertanyaan, “Dimana Allah di saat dunia menderita?” seharusnya dijawab dengan “Dimana Gereja di saat dunia menderita?” Gereja telah diberikan misi sebagai kepanjangantangan dari pada Yesus untuk mengadakan pemulihan atas bumi ini. Gereja misioner ada bersama mereka yang terluka dan membalut luka-luka mereka. Gereja misioner tidak takut dicap sebagai sesat dan memilih ada bersama dengan yang paling hina dari hina. Gereja misioner ada untuk menunjukkan wajah Kristus kepada dunia.

* Semua kutipan alkitab berbahasa Inggris di ambil dari The New Living Translation (NLT)

Posted on 22.25

Jesus - The Troublemaker

Filed Under () By Jed Revolutia di 22.25



Berbincang-bincang dengan orang Kristen membahas tentang Yesus bisa terkadang menggelikan. Banyak kali lawan bicara saya berbicara dengan berapi-api tentang Yesus yang mereka kenal. Herannya saya merasa mereka sedang membicarakan Yesus yang lain dari yang saya kenal lewat Alkitab. Yang membuat saya bertambah heran ialah banyaknya orang yang tidak mengenal Jesus of the Bible, melainkan hanya mengenal Jesus of the Mythology.

Ada kawan yang menggambarkan Yesus sebagai pribadi baik yang akan mengabulkan semua permintaan kalo kita adalah orang Kristen baik-baik, tidak memiliki catatan kejahatan, tampan atau cantik, dan terutama ialah rutin mengembalikan persepuluhan. Kalau doa kita tidak terjawab, penyebabnya pasti tidak jauh-jauh dari kurang iman atau ada dosa tersembunyi yang belum dibereskan. Kalau ternyata yang bersangkutan tidak terlihat kurang gizi (baca: iman) maka mungkin saja Tuhan sedang menyuruh dia menunggu waktu Tuhan. Yesus seperti ini sangat senang memberkati umatnya dengan berbagai hal yang luks seperti rumah baru, mobil baru, dan segala hal yang ‘stylish’ dari Tuhan yang ‘cool’ dan berselera baik. Celakanya gambaran Yesus seperti itu lebih menyerupai Santa Claus di kebudayaan barat dan Budai di kebudayaan Timur dibanding Yesus yang ada di Alkitab. Gambaran tersebut menekankan pada posisi Tuhan sebagai pemberi keinginan manusia dengan prasyarat, yakni apakah anda disukai oleh Dia?.

Ada lagi kawan yang menggambarkan Yesus sebagai pribadi yang penuh kedamaian dan cinta kasih. Ini adalah Yesus yang selalu betuturkata dengan etika, menghargai perasaan orang, dan yang terutama sangat lemah lembut. Ini adalah Yesus yang tidak mengenal istilah ‘melawan’ dan selalu penuh senyum membiarkan orang lain menganiaya dirinya. Ini adalah Yesus yang tidak menjadi batu sandungan, tidak beremosi, rajin beribadah dan gemar menabung. Ini adalah Yesus yang sering muncul di lukisan-lukisan Kristen, Yesus yang sangat amat mengasihi orang lain sehingga lupa bagaimana mengurus dirinya sendiri. Celakanya gambaran Yesus ‘banci’ seperti itu lebih mirip seorang petapa anti-kekerasan dari India dibanding dengan Yesus di Alkitab. Mungkin saja yang menganut paham ini mendasari imannya pada The Gospel according to St. Gautama.

Yesus yang saya kenal di Alkitab adalah seorang pembuat masalah. Kata-katanya selalu tajam, membuat syak, dan membuat banyak orang tersinggung dan naik pitam. Dia adalah contoh sejati dari batu sandungan karena dia membuat pengikutnya membenci para pemuka agama waktu itu dengan menggosipkan kejelekan mereka senantiasa. Dia tidak tahu tata krama karena membuat mukjizat (baca: keonaran) tidak pada sikon yang tepat. Ketika Dia datang ke Bait Allah (baca: gereja), semestinya Dia melepaskan berkat, namun Dia malah membuat banyak orang bangkrut dan mengalami kerugian finansial. Dia juga dianggap kalangan terpelajar sebagai wong edan, kerasukan setan, pemberontak, atau minimal sebagai con artist.

Yesus yang saya kenal ialah Yesus yang selalu identik dengan masalah. Lagian Dia tidak pernah berjanji barangsiapa mengikut Dia akan terbebas dari masalah, malahkan Dia berkata, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Dia juga pribadi yang mengucapkan kata-kata mengerikan ini, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Mengikut Yesus berarti anda sedang membawa seluruh hidup anda dalam masalah. Belakangan saya baru mengerti kenapa Yesus dianggap sebagai jawaban semua masalah, yaitu karena detik anda memutuskan jadi pengikut Kristus, maka semua masalah lama anda hilang lenyap karena anda mendapat masalah baru yang berkali-kali lebih besar dari sebelumnya. Masalah yang dibawa Yesus kepada anda ialah ini, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Mengikut Yesus bukanlah sekedar mengisi formulir keanggotaan gereja, rutin ibadah, dan tidak pernah telat perpuluhan. Mengikut Yesus bicara mengenai kehilangan segala-galanya demi mendapatkan kerajaan Allah yang untuk sementara anda cuma bisa lihat di brosur dan trailer saja. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.”

Mengikut Yesus adalah petualangan terbesar yang mungkin anda ikuti di dunia ini. Akan ada banyak goncangan dan saat-saat menegangkan yang akan anda lalui. Oleh karena itu sekarang ketika ada petobat baru saya tidak lagi mengatakan ‘selamat’ padanya ketika dia menerima Yesus, tapi saya akan pegang erat tangannya, tatap matanya dan berkata, “Please fasten your seatbelt!

Posted on 13.12

How To Beat God's Heart

Filed Under () By Jed Revolutia di 13.12

Pre-reading: 1 & 2 Samuel

Recently, I did a study on the life of David. God said that David was “a man whose heart beats to my heart (Acts 13:22)” and even Jesus, The Messiah, is oftentimes referred as “The Son of David” in the scripture. Long after the death of David, the memory of this charismatic shepherd-king still remained in mind of God and the people of Israel. What so special about David that make him dearly to the heart of God? Is it a coincidence that the name ‘David’ in Hebrew literally means ‘The Beloved’? What had made God fallen in love with David despite his failures and weaknesses?

I finally found a glimpse of answer as I read the second book of Samuel chapter nineteen:

But in private Joab rebuked the king: "Now you’ve done it—knocked the wind out of your loyal servants who have just saved your life, to say nothing of the lives of your sons and daughters, wives and concubines. What is this—loving those who hate you and hating those who love you? Your actions give a clear message: officers and soldiers mean nothing to you. You know that if Absalom were alive right now, we’d all be dead—would that make you happy?


So, David loves those who hate him, even to the degree that it seems that he hates those who love him. David has the heart of Abba, loving both good and bad people at the same time. Jesus said of His Abba: “This is what God does. He gives his best—the sun to warm and the rain to nourish—to everyone, regardless: the good and bad, the nice and nasty. If all you do is love the lovable, do you expect a bonus? Anybody can do that. If you simply say hello to those who greet you, do you expect a medal? Any run-of-the-mill sinner does that. In a word, what I’m saying is, grow up. You’re kingdom subjects. Now live like it. Live out your God-created identity. Live generously and graciously toward others, the way God lives toward you.” (Matthew 5)

God is love and God loves everybody. He loves both saints and sinners because it is His nature to love. When God ceases to love, it means that God ceases to be Himself. God can’t ‘can’t love’ because He himself is love. The Bible says that Abba loves and gives to everyone, regardless how good and evil they are. God’s love to us is unconditional. He loves us when we keep his word and when we don’t keep his word. God is always consistent in his nature. There is no evil in Abba.

The sad fact is that not everybody wants to accept Abba’s love. They would prefer to make walls around themselves so that they are not loved by the Lamb and Lion of Judah. This is very clear in the story of the prodigal son. The eldest child always lives with his father and tries so hard to please the father, but he never comes to the heartbeat of his father. He is close physically, but emotionally he is more distant to the father than the youngest son. He is the prototype of people who lives a selfish life and refuses to love even his father. His motive is to get rid of the father and get the whole inheritance, but he’s doing it trickily. The younger brother also has the same motive but he is doing it without hypocrisy. He is what he is, a rebellious son. The father can see the beloved in both of his son because he is a loving father, but only one of them can accept the fact that he is the beloved, while the other one complains why he has never been loved.

David can see the beloved in everyone he meets, friends or enemies. He loves them all. But the so-called friend like Joab and his brothers are not actually real friends. They did everything for themselves, covered their motives, and never really listened to what David has said. That’s why David replaced his army commander from Joab to Amasa after the Absalom’s incident. Joab, just like the eldest child in the parable, complained why he has never been loved by David. He refused to be the beloved.

Jesus can also see the beloved inside the prostitutes and the tax collectors. He can even see it inside the Pharisees and the Sadducees, but they refused to be recognized as the beloved. They believe that by their own efforts, they have attained the right standing with God. They reject the idea of Abba’s grace because they knew it will make all their religious activities to be unnoticed. They will be in the same banquet with the people whom they regarded as spiritual nobodies if they accept the invitation from the Son of Man. It is their pride in outward part of the cup that make them unfit for the kingdom of God. The eldest son can never fathom the mystery of Abba’s grace to the prodigal son, whom his father considers as the beloved.



Jesus said that if we loved him, we would keep his word. He was actually saying that a beloved would love to do everything that pleases God, but it didn’t mean that everybody who did the law of God was the beloved. What made the difference was in motives of the heart. The hypocrites do the things of God in order to show off that they are 'somebody', while the sinners do the things of God to show to God their gratitude of being forgiven and recognized as the beloved.

In order to be the beloved, all we have to do is to have faith in God’s love. Paul Tillich said that faith is the courage to accept acceptance. We must let Abba loves us in our brokenness. After we accept our identity as Abba’s beloved, we will naturally show our gratitude by loving God and people around us. When we love God, we will naturally keep his word and live in love. We will be able to see other people as the beloved and started to love our enemies. We become the beloved when ‘be Jesus’ and not ‘play Jesus’ to other people around us.

All scriptures quoted are taken from The Message Holy Bible by Eugene Peterson.

Posted on 12.28

Love Scandal In A Vineyard

Filed Under () By Jed Revolutia di 12.28

Now I will sing for the one I love
a song about his vineyard:
My beloved had a vineyard
on a rich and fertile hill.
He plowed the land, cleared its stones,
and planted it with the best vines.
In the middle he built a watchtower
and carved a winepress in the nearby rocks.
Then he waited for a harvest of sweet grapes,
but the grapes that grew were bitter.

The above verses are taken from the book of Isaiah chapter 5 (New Living Translation) and they tell us about somebody who has made every efforts in order to get the best wine from his vineyard. First, it is told that the vineyard was built on a rich and fertile land which he has plowed and cleared from stones. It means that the owner has chosen the best possible place for his vineyard. Second, it is told that the owner has planted it with the best vines. It means that the owner has provided the vineyard with the best possible vine, which is in Hebrew called as ‘Sorek’. It is the grapes that had scarcely perceptible seeds. Third, it is told that the owner has built a watchtower in the middle of the vineyard. It means that the vineyard is well protected, provided with guards to watch the vineyard against the depredations of man or beast. Fourth, it is told that the owner has carved a winepress in the nearby rocks. It means that the owner has provided the vineyard with the facilities to produce the best wine. Based on what the owner has done to his vineyard, it is very understandable why he looked forward for a harvest of sweet grapes. But it is told in the end that the grapes were bitter instead of the fact the owner has done everything he could possibly do to get the best out of his vineyard.

Every businessman who started any business would likely to expect to get profit from his business. Every parent who raised children would likely to expect to have obedient children. Every farmer who planted his field would likely to expect to have plentiful harvest. Can you feel the heartache of the vineyard owner after knowing that the vineyard produced bitter grapes? This is how he felt:

Now, you people of Jerusalem and Judah,
you judge between me and my vineyard.
What more could I have done for my vineyard
that I have not already done?
When I expected sweet grapes,
why did my vineyard give me bitter grapes?

Can you feel him when he said what more could he have done for his vineyard that he had not already done? What would he do next? Here is the answer:
Now let me tell you
what I will do to my vineyard:
I will tear down its hedges
and let it be destroyed.
I will break down its walls
and let the animals trample it.
I will make it a wild place
where the vines are not pruned
and the ground is not hoed,
a place overgrown with briers and thorns.
I will command the clouds
to drop no rain on it.

What a sad ending to the vineyard that was truly loved by its owner. Moreover, it is told that the owner of the vineyard is The Lord himself:

The nation of Israel is the vineyard of the LORD of Heaven's Armies. The people of Judah are his pleasant garden.He expected a crop of justice, but instead he found oppression.He expected to find righteousness, but instead he heard cries of violence.

Around 700 years after the words of The Lord were spoken by the prophet Isaiah, God-incarnated Jesus repeats almost a similar story. He spoke to the groups of religious leaders of Israel in Matthew Gospel chapter 21 (NLT). This is what he said:

"Now listen to another story. A certain landowner planted a vineyard, built a wall around it, dug a pit for pressing out the grape juice, and built a lookout tower. Then he leased the vineyard to tenant farmers and moved to another country. At the time of the grape harvest, he sent his servants to collect his share of the crop. But the farmers grabbed his servants, beat one, killed one, and stoned another. So the landowner sent a larger group of his servants to collect for him, but the results were the same. "Finally, the owner sent his son, thinking, `Surely they will respect my son.' "But when the tenant farmers saw his son coming, they said to one another, `Here comes the heir to this estate. Come on, let's kill him and get the estate for ourselves!' So they grabbed him, dragged him out of the vineyard, and murdered him. "When the owner of the vineyard returns," Jesus asked, "what do you think he will do to those farmers?" The religious leaders replied, "He will put the wicked men to a horrible death and lease the vineyard to others who will give him his share of the crop after each harvest."Then Jesus asked them, "Didn't you ever read this in the Scriptures? `The stone that the builders rejected has now become the corner stone. This is the LORD's doing, and it is wonderful to see.' I tell you, the Kingdom of God will be taken away from you and given to a nation that will produce the proper fruit. Anyone who stumbles over that stone will be broken to pieces, and it will crush anyone it falls on." When the leading priests and Pharisees heard this parable, they realized he was telling the story against them—they were the wicked farmers."

This time, Jesus talked about the fulfillment of the prophecy spoken though Isaiah seven centuries earlier. God as the owner of the vineyard has been desperately longed for the best fruit he could get, but after waiting patiently for such a long time, he still could not find what he looked for. That’s why Jesus said that the Kingdom of God was taken from the people of Israel to a new nation that he expected to produce the fruit he wants. The new nation is the church.

In Exodus 19, God has provided a destiny for the nation of Israel. He wanted them to be his own special treasure from among all the peoples on earth; for all the earth belongs to him. And they will be his kingdom of priests, his holy nation (verses 5-6, NLT). This destiny was never fulfilled by Israel. That’s why God is designing a new chosen nation, that is the church. Apostle Peter said that God calls the church to be a chosen people, royal priests, a holy nation, God's very own possession. As a result, they can show others the goodness of God, for he called them out of the darkness into his wonderful light (1 Pet 2:9, NLT).

So, it is clear that God is looking for the sweet fruit. What kind of fruit that God couldn’t find in the people of Israel which he expects to find in his church? In Jesus’ time, he addressed his anger mostly to the priests, scribes, and the Pharisees. These groups of people are known to be very much religious and loved to follow all the rules or ordinances of God in order to have a holy living. But Jesus often rebuked them for their hypocrisy and judgment attitude. He even called them as the plant which is not planted by the Father and blind men (Mat 15). Jesus said that although they are very religious, they are not pleasing to God of the vineyard. He said that:

`These people honor me with their lips, but their hearts are far from me.Their worship is a farce, for they teach man-made ideas as commands from God.'

Brennan Manning was right when he said that “Christianity is not primarily a moral code, or an ethic, or a philosophy of life,” He adds. “It’s a love affair. Jesus takes us to the father, and they pour out the Holy Spirit upon us — not to be nicer people with better morals, but brand new creations, prophets, lovers, human torches ignited with the flaming Spirit of the living God.”

What God is looking for all these times are none other than the human hearts. It is the real home that God is longing to have. He is not pleased with the majestic temple made by King Solomon, but he is interested in dwelling among his people. Listen to the heartbeat of God when he said firstly to the people of Israel this love song:

For you are a holy people, who belong to the LORD your God. Of all the people on earth, the LORD your God has chosen you to be his own special treasure. "The LORD did not set his heart on you and choose you because you were more numerous than other nations, for you were the smallest of all nations! Rather, it was simply that the LORD loves you, and he was keeping the oath he had sworn to your ancestors. That is why the LORD rescued you with such a strong hand from your slavery and from the oppressive hand of Pharaoh, king of Egypt. Understand, therefore, that the LORD your God is indeed God. He is the faithful God who keeps his covenant for a thousand generations and lavishes his unfailing love on those who love him and obey his commands. But he does not hesitate to punish and destroy those who reject him. (Deuteronomy 7, NLT)
The number one agenda that our God has when he first created mankind was that he could have deep intimate loving fellowship with the people He created. God wants to shower his love the one he loved. This same God has not changed until today. He is still looking for people who are willing to give their hearts to Him. Even among the best churches, he is still saying these words: "Look! I stand at the door and knock. If you hear my voice and open the door, I will come in, and we will share a meal together as friends. (Rev 3, NLT)”. God is still looking for the home for him to abide. Would you love to have yourself as a home for God? This is how you can do it:

"All who love me will do what I say.
My Father will love them,
and we will come
and make our home with each of them.”

(John 14:23, NLT)

Posted on 12.52

Faking Relationship

Filed Under () By Jed Revolutia di 12.52

I guess everybody in this planet has at least once in their lifetime faked a relationship. This happens when someone brags about the relationship they never had. The motives ranged from the desire to look impressive to the intention to fool other people. I, myself, sometimes fake a relationship with a woman in front of a colleague in order to impress him/her. Perhaps, you have also met someone who acted as though he had been closely associated with someone, while the truth would say the opposite.

There is a bigger tragedy in this case: a lot of people fake their relationship with God. Just ask yourself these questions: How many people that you met talked about how spiritual they are while actually they are not? How many people that you know believe to be having God as their buddy, while actually they do not even know how to pray? How may people that you have encountered consider themselves as knowing God intimately, while actually they do not know the will of God at all? I bet you will agree with me now.

I also ask myself this question: Am I faking the relationship with God? Perhaps, when I speak in the name of God, God is actually asking me to shut up because I speak out of foolishness. To be honest, I do not know the answer. I do really wish to have a relationship with God.

I believe some people are addicted to `Spiritual Masturbation`. To masturbate means an action that somebody does in order to get sexual pleasures by having sex with him/herself. Masturbation is done without any authentic relationship, while intercourse is done with an authentic partner. That’s why some people are addicted to spiritual masturbation because they are getting spiritual pleasures by having imaginary relationship with God. In short, they are faking the authentic relationship with God. They believe that they know God, while God does not even know them at all.

My deepest desire in my lifetime is to know God. Pastor David Wilkerson once wrote about a person that has made jealous and zealous at the same time. This person is not faking a relationship with God. He is definitely intimate with God. Here’s the excerpt:

During one meeting in Russia, I talked with a pastor who had been imprisoned for eighteen years. This man’s face visibly shines with Christ. Today, he oversees 1,200 churches in Russia. Yet he endured incredible hardships while in prison. `Jesus was real to me,` he testified, `more real than I have ever known in my lifetime.`

Because of his Christ-like character, the minister was respected by everyone in the prison, including hardened inmates and spiteful guards. Then one day, the Holy Spirit whispered to the pastor, `You are going to be released from here in three days.` And he told the minister to testify about it.

The pastor immediately sent word to his wife and congregation about the Holy Ghost`s revelation. Then he began telling his fellow prisoners what God had told him. They laughed him to scorn, saying, `Nobody has ever been released from this place.` The guards also mocked him, taunting, `You will die here, preacher.`

When the third day arrived, and the evening sky grew dark, a guard looked in on the pastor and shook his head. `Some God you have got,` he sneered.

Then, just after 11 p.m., the loudspeaker came on. A voice called the pastor’s name. `Come to the office immediately,` it announced. `You have been released.`

All the prisoners and guards were stunned. As the pastor walked by, he told each of them good-bye and wished them well. Finally, as he passed through the prison gate, he saw his wife waiting for him with flowers. As the pastor embraced her, he turned to look back at the prison where he had spent eighteen years. His fellow prisoners were all standing at the windows. And they were yelling at the top of their lungs, `There is God! There is God! There is God!`


Well, do you want to join me to pursue that kind of relationship with God?

Posted on 00.31

No Strings Attached To My Faith

Filed Under () By Jed Revolutia di 00.31


Jangan tanya saya soal iman, karena mungkin saja iman saya sudah hancur berkeping-keping.

Sangat gampang berbicara tentang iman ketika kita sedang hidup di puncak kejayaan hidup kita, ketika semua impian kita jadi kenyataan, ketika Tuhan yang kita sembah menunjukkan perkenan pada kita dengan kuasa mukjizat-Nya. Tapi lain situasinya ketika keadaan semakin memburuk, harapan kita menipis, dan kita mendapati sindrom 'The Good Lord Ain't Good All The Time" menjadi momok dalam hidup kita.

Sangat mudah membuat kesaksian ketika Tuhan baik kepada kita dengan mengabulkan apa yang kita minta. Apa yang terjadi dengan harapan yang kandas, doa yang tidak terkabul, dan kenyataan hidup yang pahit? Justru di tempat inilah iman menjadi komoditas tanpa nilai karena iman tampil berkilau di tengah-tengah kegelapan hidup, di tengah badai, di tengah keputusasaan.

Tahun lalu, saya harus menerima kenyataan pahit bahwa aplikasi beasiswa Master saya di tolak dan interview pekerjaan impian saya pun gagal. Sudah banyak doa-doa yang saya naikan agar impian saya jadi kenyataan, sudah banyak dukungan doa dari teman-teman yang bersimpati, sudah banyak tanda-tanda yang menunjukkan saya akan berhasil. Ketika saya mendapati saya ada dalam lembah kegagalan, maka semangat hidup saya pun hilang seiring hilangnya kesempatan untuk mewujudkan impian saya.

Lalu saya berpikir, mungkin semua itu gagal karena Tuhan tidak ingin saya meninggalkan pelayanan di kota saya. Lalu saya pun berdoa pada Tuhan bahwa saya akan tetap tinggal di sini dan meminta 2 buah permintaan, yakni mendapat pekerjaan tambahan dan mendapat kekasih. Saya pun semakin bersungguh-sungguh dalam pelayanan dengan motivasi yang tulus hanya untuk mendapati bahwa lewat setahun dari doa saya, saya masih belum mendapatkan pekerjaan tambahan atau pun seorang kekasih. Lengkap sudah frustasi yang saya alami.

Saya mulai bertanya-tanya apa yang salah dengan diri saya. Saya mulai bertanya-tanya mengapa Allah berkenan menjawab doa orang lain dan mengabulkan impian mereka tetapi tidak dengan saya. Saya mulai bertanya-tanya apakah iman yang saya miliki selama ini hanyalah kebodohan semata. Apakah Tuhan memang benar-benar ada, bukan berarti saya mempertanyakan keberadaan Tuhan, tetapi saya bertanya apakah Tuhan ada di sini bersama saya ketika semua impian saya harus kandas.

Miris rasanya hati ini ketika saya berkata pada orang lain yang menceritakan masalahnya ke saya bahwa "Jesus is the answer to all your problem" sedang hati kecil saya menyahut dengan "Yeah, but not my own problem, sadly". Apakah Yesus sang Solusi itu benar-benar ada bagi saya? Atau Dia cuma ada bagi orang lain yang lebih dari saya, entah itu lebih kudus, lebih baik, lebih kaya, lebih ganteng, lebih munafik, lebih despret, whatever.

Tapi ternyata saya tidak sendirian. Ketika saya membuka Bible saya, mata saya tertuju pada sebuah teriakan hati yang mirip dengan yang saya alami. Orang ini berkata: "I am losing all hope; I am paralyzed with fear." dan beberapa saat kemudian dia berteriak "Come quickly, LORD, and answer me, for my depression deepens. Don't turn away from me, or I will die." Ooops! Saya bukan orang pertama yang pernah mengalami krisis iman yang parah setelah diterpa sebuah ombak yang sangat besar.

Lalu apa yang dibuat oleh orang itu untuk mempertahankan imannya? Dia berkata demikian: "I remember the days of old. I ponder all your great works and think about what you have done. I lift my hands to you in prayer. I thirst for you as parched land thirsts for rain" (Ps 143: 5-6). Somehow, kesetiaan Tuhan di masa lalu, hanya itulah yang bisa jadi pegangan bagi kita. Seperti kata wanita yang pernah saya cintai berkata pada saya bahwa: "Dia yang telah menyelamatkan kita di masa lalu akan terus melakukannya bagi kita di masa depan. Ketika kita melihat pekerjaan Tuhan di masa lalu, kita bisa optimis bahwa Dia akan melakukannya lagi bagi kita di masa depan."

My spiritual guru, Mike Yaconelli menjelaskan perkara ini dengan lebih jelas lewat kata-katanya berikut ini:

"God’s will is not like a to-do list. It’s more like an undecipherable code. The Bible definitely gives us some clues about the code of God’s will, which means we can figure out part of it; but, because it’s God, we will never crack the code...We can trust God when we get a glimpse of Divine will and when we don’t. We can trust God in the answers and the questions, in the good and the bad, in the light and the dark, when we’re winning and when we’re losing. We can trust God even when the Truth doesn’t answer all our questions or leaves us with even more questions. And, most importantly, just beyond our "I don’t know’s," Jesus is waiting with open arms to snuggle us in the mystery of his love."

Baca tulisan lengkap Mike Yaconelli yang berjudul "I Don't Know" di sini.

Baca 1 pasal lengkap dari Psalm 143 (New Living Translation) di sini.

Posted on 22.38

Maukah Kau Jadi Aku?

Filed Under () By Jed Revolutia di 22.38



Kupandang Kau terpaku di salib
Kupandang Kau penuh sesak derita
Kupandang Kau menggeliat kesakitan
Kupandang Kau sedang sekarat

Air mata tak dapat kuhenti
Aku takut hadapi realita
Takut hadapi kotornya diriku
Takut hadapi akibat ulahku

Aku benci diriku
Aku telah bodoh, ceroboh, lalai
Aku tak pantas untuk dilahirkan
Tapi Kau bri makna hidupku

Stiap ketok palu dipasak di tanganMu
Stiap erang sakit yang kau t’riakan
Tanpa alasan Kau buat itu bagiku
Jahanam yang harus terhukum

Histeriamu buatku tak tahan lagi
Aku lari gapai kayu salibMu
Tangisanku redam teriakanMu
Air mataku bercampur darahMu

Mengapa Tuhan?
Mengapa Kau buat ini bagiKu?
Beri aku alasan…
Atau kujadi gila karenanya.

Aku
Kasihi
Kau
Slamanya

Tidaaaaaaak!
Jangan teruskan!
Tak dapat kutahan lagi
Sulit ku tuk bernafas

Kukatakan dalam senduku,
“Yesus, apa yang harus kubuat?
Ku mau balas jasaMu.
Ku mau bertrima kasih padaMu.”

Kedengar Dia berkata lembut,
“Maukah kau jadi AKU bagi orang lain?
Supaya orang lain juga tahu,
Kalau Kubuat ini juga buat mereka.”

Posted on 22.50

You Are WANTED!!!

Filed Under () By Jed Revolutia di 22.50

Seusai mentraktir seorang teman baru-baru ini, dia meminta saran mengenai terobosan rohani. "Gimana ya Ko, aku ini sibuk banget. Aku sibuk kerja dan kuliah, di rumah cuma buat tidur saja. Setiap subuh aku selalu usahakan bangun untuk berdoa, namun aku berdoa dalam keadaan ngantuk. Doa juga kering, tidak terasa apa-apa. Aku ingin mengalami terobosan rohani namun aku kayaknya tidak punya waktu untuk itu." Sebuah pertanyaan klasik yang sudah menjadi pergumulan banyak orang.

Saya bertanya balik padanya apa yang akan dilakukannya jika seorang temannya datang kepadanya dan berkata, "Man, sorry banget gue jarang hubungi elo. Gue sibuk banget neh. Gue seh pengen banget ketemuan ama elo, pengen ngobrol-ngobrol, pengen lakukan hal-hal yang fun bersama, tapi ada halangan di waktu gue. Kalau saja gue gak sibuk, gue mao banget habiskan waktu bersama-sama elo, tapi ya mao gimana lagi, gue cuma bisa berandai-andai, andai saja gue punya banyak waktu luang." Saya bertanya padanya apa reaksi dia pada orang tersebut? Apakah dia marah? Apakah dia kecewa? Apabila dia benar-benar tahu bahwa orang tersebut berbicara dengan kejujuran dan teriakan hati, hati yang rindu untuk berjumpa dengannya, maka apa reaksi dia?

Ketika kita dihadapkan pada teriakan hati seperti itu, kita tidak mungkin akan memarahi teman kita tersebut. Kita akan memaafkan, memaklumi, atau bahkan merangkul dia. Kita bisa malah semakin sayang dengan dia karena dia adalah orang yang sangat amat merindukan kita. Kita tidak akan melihat dia sebagai orang yang menyebalkan, tetapi lebih kepada seseorang yang mencintai kita, merindukan kita.

Bayangkan apa yang dipikirkan Tuhan tentang teman saya itu dengan kerinduan jujurnya. Jika kita manusia saja bisa merangkulnya dalam kasih, apalagi Tuhan kita. Kalikan perasaan kasih kita hingga 1000x hingga sampai ke level kasih-Nya Tuhan, maka kita akan bisa memahami seberapa besar kasih Tuhan kepada kita.

Kuncinya disini adalah pengetahuan bahwa Abba lebih merindukan hadirat kita dibanding kerinduan kita akan hadirat-Nya. Abba lebih menginginkan kita dibanding kita menginginkan Dia. Alkitab menggambarkan Abba sebagai Bapak yang berlari menyambut anaknya yang bodoh pulang. Alkitab menggambarkan Abba sebagai Tuhan yang mengejar Israel, sang pelacur, dan menginginkannya untuk kembali mencintai Dia.

Hosea 3:1 (The Message)
Then GOD ordered me, "Start All Over: Love your wife again your wife who's in bed with her latest boyfriend, your cheating wife. Love her the way I, GOD, love the Israelite people, even as they flirt and party with every god that takes her fancy."

Oleh karena itu, ketika saya datang ke hadirat Abba, saya akan mengatakan berulang-ulang, "Abba, aku milik-Mu. Abba, aku kepunyaan-Mu. Abba, aku kesayangan-Mu." sampai kata-kata itu meresap di batin saya dan saya tersadarkan akan hadirat Dia yang sangat amat menginginkan saya. Saya tahu bahwa kehadiran saya sudah dinantikan-Nya. Tidak dibutuhkan waktu untuk penyesalan. Tidak diperlukan waktu untuk menghakimi diri sendiri. Yang diperlukan ialah waktu berpesta karena Abba ingin menikmati saat-saat bersama dengan saya.

Baru-baru ini ketika saya terkena sindrom jatuh cinta, saya tidak bisa melewatkan sedetik pun tanpa memikirkan si dia. Abba berbisik pada saya bahwa jika kemampuan saya untuk jatuh cinta bisa membuat saya sampai ke titik itu, maka ketika Dia jatuh cinta pada saya, maka Dia akan memikirkan saya lebih dari itu. Bahkan per seribu detik pun saya tahu bahwa Abba memikirkan saya. Waduh, jadi gak sabar neh untuk berlari kembali ke dekapan Abba.