Welcome
Welcome to Cross-written
Posted on 00.31

No Strings Attached To My Faith

Filed Under () By Jed Revolutia di 00.31


Jangan tanya saya soal iman, karena mungkin saja iman saya sudah hancur berkeping-keping.

Sangat gampang berbicara tentang iman ketika kita sedang hidup di puncak kejayaan hidup kita, ketika semua impian kita jadi kenyataan, ketika Tuhan yang kita sembah menunjukkan perkenan pada kita dengan kuasa mukjizat-Nya. Tapi lain situasinya ketika keadaan semakin memburuk, harapan kita menipis, dan kita mendapati sindrom 'The Good Lord Ain't Good All The Time" menjadi momok dalam hidup kita.

Sangat mudah membuat kesaksian ketika Tuhan baik kepada kita dengan mengabulkan apa yang kita minta. Apa yang terjadi dengan harapan yang kandas, doa yang tidak terkabul, dan kenyataan hidup yang pahit? Justru di tempat inilah iman menjadi komoditas tanpa nilai karena iman tampil berkilau di tengah-tengah kegelapan hidup, di tengah badai, di tengah keputusasaan.

Tahun lalu, saya harus menerima kenyataan pahit bahwa aplikasi beasiswa Master saya di tolak dan interview pekerjaan impian saya pun gagal. Sudah banyak doa-doa yang saya naikan agar impian saya jadi kenyataan, sudah banyak dukungan doa dari teman-teman yang bersimpati, sudah banyak tanda-tanda yang menunjukkan saya akan berhasil. Ketika saya mendapati saya ada dalam lembah kegagalan, maka semangat hidup saya pun hilang seiring hilangnya kesempatan untuk mewujudkan impian saya.

Lalu saya berpikir, mungkin semua itu gagal karena Tuhan tidak ingin saya meninggalkan pelayanan di kota saya. Lalu saya pun berdoa pada Tuhan bahwa saya akan tetap tinggal di sini dan meminta 2 buah permintaan, yakni mendapat pekerjaan tambahan dan mendapat kekasih. Saya pun semakin bersungguh-sungguh dalam pelayanan dengan motivasi yang tulus hanya untuk mendapati bahwa lewat setahun dari doa saya, saya masih belum mendapatkan pekerjaan tambahan atau pun seorang kekasih. Lengkap sudah frustasi yang saya alami.

Saya mulai bertanya-tanya apa yang salah dengan diri saya. Saya mulai bertanya-tanya mengapa Allah berkenan menjawab doa orang lain dan mengabulkan impian mereka tetapi tidak dengan saya. Saya mulai bertanya-tanya apakah iman yang saya miliki selama ini hanyalah kebodohan semata. Apakah Tuhan memang benar-benar ada, bukan berarti saya mempertanyakan keberadaan Tuhan, tetapi saya bertanya apakah Tuhan ada di sini bersama saya ketika semua impian saya harus kandas.

Miris rasanya hati ini ketika saya berkata pada orang lain yang menceritakan masalahnya ke saya bahwa "Jesus is the answer to all your problem" sedang hati kecil saya menyahut dengan "Yeah, but not my own problem, sadly". Apakah Yesus sang Solusi itu benar-benar ada bagi saya? Atau Dia cuma ada bagi orang lain yang lebih dari saya, entah itu lebih kudus, lebih baik, lebih kaya, lebih ganteng, lebih munafik, lebih despret, whatever.

Tapi ternyata saya tidak sendirian. Ketika saya membuka Bible saya, mata saya tertuju pada sebuah teriakan hati yang mirip dengan yang saya alami. Orang ini berkata: "I am losing all hope; I am paralyzed with fear." dan beberapa saat kemudian dia berteriak "Come quickly, LORD, and answer me, for my depression deepens. Don't turn away from me, or I will die." Ooops! Saya bukan orang pertama yang pernah mengalami krisis iman yang parah setelah diterpa sebuah ombak yang sangat besar.

Lalu apa yang dibuat oleh orang itu untuk mempertahankan imannya? Dia berkata demikian: "I remember the days of old. I ponder all your great works and think about what you have done. I lift my hands to you in prayer. I thirst for you as parched land thirsts for rain" (Ps 143: 5-6). Somehow, kesetiaan Tuhan di masa lalu, hanya itulah yang bisa jadi pegangan bagi kita. Seperti kata wanita yang pernah saya cintai berkata pada saya bahwa: "Dia yang telah menyelamatkan kita di masa lalu akan terus melakukannya bagi kita di masa depan. Ketika kita melihat pekerjaan Tuhan di masa lalu, kita bisa optimis bahwa Dia akan melakukannya lagi bagi kita di masa depan."

My spiritual guru, Mike Yaconelli menjelaskan perkara ini dengan lebih jelas lewat kata-katanya berikut ini:

"God’s will is not like a to-do list. It’s more like an undecipherable code. The Bible definitely gives us some clues about the code of God’s will, which means we can figure out part of it; but, because it’s God, we will never crack the code...We can trust God when we get a glimpse of Divine will and when we don’t. We can trust God in the answers and the questions, in the good and the bad, in the light and the dark, when we’re winning and when we’re losing. We can trust God even when the Truth doesn’t answer all our questions or leaves us with even more questions. And, most importantly, just beyond our "I don’t know’s," Jesus is waiting with open arms to snuggle us in the mystery of his love."

Baca tulisan lengkap Mike Yaconelli yang berjudul "I Don't Know" di sini.

Baca 1 pasal lengkap dari Psalm 143 (New Living Translation) di sini.

1 komentar

Fida Abbott on 1 Mei 2007 pukul 22.05  

Umumnya mereka melayani Tuhan dgn maksud tertentu agar diberkati Tuhan dan doa-doanya terkabul. Baiklah kita mengatakan bahwa kita melayani Tuhan dgn segenap hati dan tulus tanpa maksud tertentu atau imbalan tertentu kpd Tuhan krn DIA telah mengetahui apa yg telah kita butuhkan dan yg terbaik.

Dgn adanya krisis iman makan engkau boleh lebih memuliakan DIA dan tdk menjadi sombongs serta lebih mengandalkan kekuatann dari-NYA.

Terus berjuang serta berdoa dan jgn sampai patah semangat !!!!!!!!!! Begitulah orang sukses menuai dunia !!!!!!!!