Welcome
Welcome to Cross-written
Posted on 00.10

A waste of life

Filed Under () By DeepBlue di 00.10

Sekian untuk intro-nya.

Kala itu, aku sedang jalan-jalan di Hurstville sendirian.

Pernah nggak jalan-jalan di tengah malam sendirian?
Untuk beberapa kota, sangat ga lazim banget untuk jalan-jalan sendirian di bawah tengah rembulan, apalagi untuk kota-kota di Indo.
Tapi tidak untuk kota-kota di negara berkembang.
Jalan-jalan sendirian jam 1 pagi.. 2 pagi.. 4 pagi.. di Sydney sini nggak ada orang yang peduli.
Dengan asumsi bukan jalan-jalan dengan pake perhiasan yang menor2 lho ya.
Anyway, sebelum ngelantur lebih jauh lagi, kembali ke topik.

---

Kala itu, aku sedang jalan-jalan di Hurstville sendirian.
Di malam hari pula, di mana lampu merkuri jalan berpancar merah remang-remang.

Sementara Hurstville merupakan pusat kota bagian Sydney selatan yang cukup ramai.
Walau berada di negara Australia, tapi area ini dipenuhi orang2 Asia. Bahkan cukup langka untuk menemukan bule di Hurstville.
Tukul pun berkata, "kembali ke lap.."

---

Kala itu, aku sedang jalan-jalan di Hurstville sendirian.
Di malam hari pula, di mana lampu merkuri jalan berpancar merah remang-remang.
Tepatnya mendekati jam 9 malam saat aku keluar dari stasiun Hurstville.

Beda dengan kereta api di Indonesia, di Sydney kereta api termasuk salah satu angkutan umum yang benar-benar umum. Bersih, terjaga, aman. Bahkan ada denda bagi yang mengotori gerbong KA.

... jadi ngalor ngidul ga karuan

---

Kala itu, aku sedang jalan-jalan di Hurstville sendirian.
Di malam hari pula, di mana lampu merkuri jalan berpancar merah remang-remang.
Tepatnya mendekati jam 9 malam saat aku keluar dari stasiun Hurstville.
Jalan2 di trotoar.. melewati lorong. Kaget banget lihat ada sekumpulan 5 pemuda pake sweater berkrudung lagi berdiri melingkar.
Transaksi!

Dan yang buat aku tambah bingung.. kok bisa-bisanya mereka transaksi sementara kantor polisi berjarak 100 meter kurang dari tempat mereka.

Btw, aku nyelong aja si. Walo sempat ngelirik duit dollar di tangan mereka.
Dan setelah kutanya, ternyata temen2 di Hurstville juga sering lihat begituan.


What a waste of life.
Sampe kapan mo begitu terus?
Sampe kapan seseorang mo mencari kesenangan semu terus?

Lucunya lagi, ga sadar ada banyak orang yang cari kesenangan semu tok.
Sbenernya ga gitu beda dengan orang2 yang kerja terus menerus untuk cari duit sementara duit menumpuk, dan tidak dinikmati.
Kesenangan semu.. cari duit.. dapet duit.. ditumpuk.. cari lagi.. dapet.. ditumpuk.
Kapan dinikmatinya?
Justru yang menikmati malah keturunan di bawahnya.. ato worse.. pembantu di rumah yang menikmati fasilitas akomodasi TV Plasma 50 inch.

Ato apakah mereka memang sengaja melakukannya daripada mikirin 'kenapa aku dilahirkan di sini, saat ini, sebagai aku?'

Who knows?
Tapi yang jelas, ada banyak sekali orang2 yang tidak sadar dengan apa yang dilakukannya dalam hal mencari kesenangan semu.

Apakah kamu termasuk di antaranya?
Jika ya, pertanyaannya cuma satu.

Sampe kapan mo begitu terus?

3 komentar

Jed Revolutia on 14 April 2007 pukul 09.23  

Good one...

membuat gue tersadar...


Anonim on 16 April 2007 pukul 06.29  

mee, apa kabar? maaf aku baru mampir lagi. hehehe. kamu sehat2 aja kan?


Anonim on 19 April 2007 pukul 09.48  

kalo g, kayaknya banyakan mikirnya deh bandingin cari duitnya. Dan itu jelek jg :P

btw, intronya keren :)